Anggota DPRD Padang Pertanyakan Penggunaan Pokir
https://tusrita.blogspot.com/2017/10/anggota-dprd-padang-pertanyakan.html
![]() |
| Suasana rapat paripurna Anggota DPRD Kota Padang (foto Ist) |
Hal itu
terungkap saat rapat kerja Komisi III bersama DPRKPP, kemarin di DPRD Padang. Zulhardi Z.
Latif mencontohkan ada satu Pokirnya yang berada pada paket 9 No.17 yang
berlokasi di RW 1 menuju RW 3 (dalam hal pengerasan jalan,red) di Kelurahan
Korong Gadang Kecamatan Kuranji. Ini telah dimasukkan dan menjadi program di
DPRKPP dan malah sudah ditenderkan.
"Namun
dari hearing kita kemarin dikatakan untuk paket 9 No. 17 ini sudah
dilaksanakan. Namun kenyataannya di lapangan tidak ada sama sekali. Jangankan
satu truk, satu buah kerikil saja tidak sampai ke lokasi tersebut," ujar
Zulhardi.
Dikatakan,
dari temuan di lapangan, jelas tidak dikerjakan. Dia mempertanyakan kemana dibawanya,
apakah ini dipindahkan ke tempat lain atau bagaimana. "Kalau dipindahkan
ke lokasi lain, itu kan tidak masuk dalam perencanaan yang sudah dibahas dan
ini sudah jelas OPD nya salah kenapa seenaknya memindahkan begitu saja tanpa
persetujuan terlebih dahulu," tegas Zulhardi.
Apalagi
sekarang, sambungnya, sudah e -planing. Jadi kegiatan atau program itu sesuai
dengan yang telah diusulkan, dan tidak boleh naik di jalan. "Tidak boleh
seenaknya saja jika dipindah-pindahkan. Apa yang telah disepakati dalam
pembahasan, itu yang akan dilaksanakan, tidak seenaknya main pindahkan
saja," katanya.
Zulhardi
kembali menegaskan, kalau tidak dilaksanakan uangnya dikemanakan. Apakah
dikembalikan? Jika iya, berarti program di paket 9 No 17 itu jelas belum
dilaksanakan. "Kenapa dikatakan sudah dan ini jelas-jelas disampaikan
dalam hearing Komisi III bersama empat OPD kemarin, yakni Dinas PU, DPRKPP,
Dinas Perhubungan dan Dinas Perdagangan," sebutnya.
Menurutnya
itu hanya baru satu paket nomor 9 saja yang baru ketahuan, sementara ada 1
hingga 13 paket. Juga diketahui, katanya di paket 11 juga terjadi gagal tender, sementara disana
ada anggaran sekitar Rp2,8 miliar.
"Apa-apa
saja pekerjaan yang ada di paket 11 ini. Apakah ada yang urgent yang betul
perlu untuk masyarakat. Kenapa tidak dilaksanakan, kenapa gagal tender untuk
paket 11 ini," katanya.
Zulhardi juga
mengungkapkan untuk di bukan Oktober ini saja di DPRKPP sendiri itu sudah
terjadi ada program yang tidak terlaksana Rp20,8 miliar. "Apalagi nanti di
Desember 2017, itu bisa saja meningkat menjadi Rp.40 miliar yang tidak
terselesaikan," ujarnya.
"Tentunya
ini sangat kita sayangkan sekali. Sementara kita di DPRD telah menganggarkan
dan itu adalah untuk kepentingan masyarakat. Kenapa tidak bisa realisasikan,
sementara masyarakat tentunya sudah berharap-harap seperti drainasenya untuk
diperbaiki, Jalan lingkungan, betonisasi dan segala macamnya," sambungnya.
Dalam masalah
ini, tambah Zulhardi, Komisi III meminta DPRKPP untuk segera menyerahkan
seluruh daftar paket 1 sampai 13 tersebut untuk diawasi satu-persatu. Apakah
kegiatan-kegiatan dalam paket-paket tersebut sudah dilaksanakan atau belum.
"Kita
tidak mau dibohongi lagi seperti kejadian pada paket 9 No. 17 yang katanya sudah dilaksanakan namun
nyatanya nihil. Ini hanya baru satu objek saja yang baru ketahuan. Bisa saja
terjadi pada paket-paket yang lainnya, pada pokir-pokir anggota dewan yang
lainnya yang anggarannya sudah masuk di OPD terkait," tegasnya.
Nantinya
letak data dari paket-paket ini akan diserahkan pada anggota dewan di Dapil
mereka masing-masing untuk melakukan pengecekan pada paket-paket ini, apakah
sudah dikerjakan apa belum.
"Kita
bukan saja mengawasi untuk pokir itu saja akan tetapi seluruh program Pemko
yang bisa saja tergabung dalam paket 1 hingga 13 ini yang akan kita cek
seluruhnya. Jadi saya harap OPD terkait jangan main-main untuk hal ini, karena
ini adalah uang rakyat yang kita gunakan untuk bangunan Kota Padang agar lebih
baik kedepannya," ungkap politisi Golkar itu.
Hal senada
juga disampaikan Wakil Ketua DPRD Padang Wahyu Iramana, DPRKPP diminta harus
segera merealisasikan pengerjaan betonisasi jalan lingkung yang anggarannya
dari pokir anggota dewan.
Ia melihat
saat ini persoalan jalan melalui pokir dewan banyak yang belum tuntas dan
selesai, sehingga kekecewaan warga terhadap anggota dewan muncul akibat
persoalan ini. "Jangan kami yang jadi disalahkan dan menjadi kekecewaan
masyarakat. Padahal kami sudah anggarkan. Kepada Pemko Padang melalui pihak
terkait harus segera menyelesaikan hal ini," tegas Wahyu yang juga Ketua
DPD Golkar Padang itu.
Sementara
Kabid Perumahan DPRKPP Norman mengatakan, bahwa untuk paket-paket pengerjaan di
DPRKPP masih ada yang sedang berjalan dan enam paket terkontrak pertama sudah
selesai pengerjaannya. Untuk yang di Kelurahan Korong Gadang ia menyebutkan itu
sudah selesai pelaksanaannya.
Sementara
Silpa yang disebut sebesar Rp.20,8 miliar itu tambah Norman, bukanlah sebanyak
itu. "Kemarin saat hearing itu hanya baru hitungan-hitungan kasarnya saja,
tidak ada Silpa sebesar itu, " ungkapnya.(PALIMO)
