72 Tahun Merdeka, Nagari Katiagan Tetap Merana
https://tusrita.blogspot.com/2017/08/72-tahun-merdeka-nagari-katiagan-tetap.html
![]() |
| Nagari Katiagan dengan infrastruktur yang masih minim (foto Buyung) |
Artikel Lainnya
loading...
Walinagari
Katiagan Endang Putra mengatakan, daerahnya saat ini hanya punya 2 unit gedung
pendidikan anak usia dini (PAUD), 4 unit sekolah dasar (SD) dan satu unit SMP
Negeri. "SMA kami belum punya, Sekolah-sekolah yang ada sekarang pun
kondisi bangunannya sangat memperhatinkan,"
ungkapnya kepada Rombongan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit saat
melakukan peninjauan ke daerah Terisolir di Pasbar, Sabtu lalu.
Endang
menjelaskan, belum tersedianya SMA di disana menjadi penyebab putus sekolah
bagi anak-anak Katiagan. Pasalnya untuk melanjutkan sekolah ketingkat SMA
meraka harus menempuh jarak yang sangat jauh seperti daerah Tiku dan Simpang
Empat.
"Dari
sini keluar saja seperti ke Tiku dan Simpang Empat mencapai 60 kilometer
menempuh jalan sempit berlobang serta melintas jalan perusahaan sawit,"
katanya.
Untuk
pembangunan sekolah SMA, terangnya, pihak nagari dan tokoh masyarakat telah
mempersiapkan lahan.
Ia mengatakan
masyarakat saat ini masih menggunakan perahu atau dikenal masyarakat di daerah
itu dengan nama ponton menggunakan tenaga manusia sebagai alat perlintasan
aliran sungai sekitar 85 meter.
Ponton dengan
ukuran sekitar 6x5 meter itu pun hanya bisa digunakan untuk melintaskan warga
dan kendaraan roda dua. Menurutnya setiap
harinya ratusan warga melakukan penyebarangan dengan dikendalikan oleh tiga
orang petugas ponton.
Kondisi
seperti ini sudah dirasakan puluhan tahun. Sebab ponton menjadi satu-satunya
pilihan untuk sampai di Mandiangin dan Katiagan. Jika hujan, air sungai besar
warga tidak bisa melakukan aktivitas.
Ia mengakui
memang sebelumnya masyarakat jembatan darurat dengan panjang 180 meter dan
lebar 1,8 meter namun saat ini jembatan tersebut sudah rusak. "Kami sangat mengharapkan adanya bantuan pemerintah baik pemda , pemda
provinsi maupun pemerintah pusat untuk membangun jembatan yang permanen. Sebab
dengan bentang sungai dan panjangnya akan memakan biaya yang tinggi,” katanya.
Nagari Katiagan
terdiri dari dua kejorongan yakni Jorong Katiagan dan Jorong Mandiangin dengan
jumlah penduduk 8000 orang.
Tercatat di
Jorong Mandiangin terdapat 480 Kepala Keluarga dan Katiagan 200 KK. Lalu-lintas
menggunakan ponton setiap harinya cukup tinggi karena selain masyarakat juga
anak sekolah menggunakan ponton.
Sementara itu,
Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Nagari Pasaman Barat, Etris Dsem
mengatakan pada 2016 Jorong Katiagan memanfaatkan dana desa untuk melepaskan
sejumlah daerah yang masih terisolasi namun tidak cukup dengan dana desa saja.
"Dana
desa sangat bermanfaat bagi nagari atau desa untuk membangun infrastruktur yang
masih tertinggal. Apalagi jika ditambah dengan dana nagari," katanya.
Menurutnya,
secara geografis Nagari Katiagan sangat terisolasi karena akses menuju daerah
seluas 19.600 hektare itu hanya bisa menggunakan perahu atau ponton karena
dipisahkan oleh sungai besar.
Akibatnya,
daerah yang memiliki sekitar 3.000 jiwa itu benar-benar terisolasi karena tidak
bisa ditempuh menggunakan jalur darat. Apalagi, akses dari
pusat pemerintahan Kecamatan Kinali sekitar 35 kilometer, jarak dari Ibukota
Kabupaten di Simpang Empat sekitar 45 kilometer dan dari Ibukota Provinsi
Sumbar 195 kilometer.
Perbaikan
akses transportasi darat menuju daerah itu sangat dibutuhkan. Terutama akses
jalan dan jembatan sebagai penghubung antara dua Kejorongan Katiagan dan
Kejorongan Mandiangin. "Nagari Katiagan terdiri dari dua kejorongan
yakni Katiagan dan Mandiangin. Namun selama ini akses transportasi hanya
menggunakan perahu atau ponton," katanya.
Ia menyebutkan
Nagari Katiagan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia itu 80 persen
masyarakatnya bermata pencarian sebagai nelayan, 10 persen sebagai wiraswasta,
lima persen usaha perkebunan dan lima persen sebagai guru atau PNS.
Persoalannya
lagi-lagi akses darat menuju daerah itu tidak ada. Sehingga daerah itu
berstatus sebagai nagari terisolasi.
Selengkapnya di The Public Edisi 23, 22 - 28 Agustus 2017
loading...
