Presiden Pertama dari Padang
https://tusrita.blogspot.com/2018/03/presiden-pertama-dari-padang.html
![]() |
| Suasana penjelasan pelaksanaan Tahfidz Quran |
Motivasi itu
berhasil mendisiplinkan para bocah yang merupakan generasi masa depan Islam
tersebut. (Baca: Embrio Generasi Islam)
Tonton Video Penyiram Kalbu
Usai Shalat
Dhuha, secara langsung mereka menggabungkan diri dengan kelompok masing –masing.
Nugi, Airin, Arjuna dan Velisa yang selalu berlarian sambil bercengkrama juga
menyatukan diri. Para bocah yang baru menajak usia 4 tahun itu, juga asyik
menghafal (Tahfidz) Quran sambil bermain dengan Ustadz Syarif Hidayat. Apalagi,
guru yang masih berstatus Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam – Pengembangan Ilmu
Al Quran (STAI-PIQ) Sumatera Barat ini sangat menyukai dunia anak. Maka sangat klop
antara keinginan santri dengan sang guru.
Selain itu,
juga ada kelompok usia bocah usia 5 sampai 6 tahun, namun sudah bisa menghafal
dengan baik. Mereka ini dibina oleh Ustadz Rahmad Hidayat, yang juga alumni
STAI-PIQ. Mereka memang masih sering
bertindak usil, tapi hal itu justru memberi motivasi sendiri dalam proses
pembelajaran. Apalagi daya tangkap mereka yang berada dikelompok ini sangat
cukup tinggi. Mereka lebih cepat melakukan hafalan ayat demi ayat yang
disodorkan para ustadz.
Artikel Lainnya
loading...
Selain itu
ada kelompok level III yang berusia 7 sampai 9 tahun. Mereka ini, rata rata
telah hafal beberapa surat juzz ama. Sedangkan kelompok yang sudah hafal banyak
surat tergabung pada kelompok IV. Dikelompok ini sudah 2 orang yang hafal hampir
2 juzz. Malahan, salah satu dari mereka juga berhasil meraih juara 2 Tahfidz
pada MTQ tingkat Kecamatan Lubuk Begalung beberapa waktu lalu.
Dua jam
berlalu, para penghafal Al Quran masih fokus dengan bacaan masing-masing.
Kecuali, kelompok I, beberapa bocah ini
sekali-kali tampak berkelakar. Namun, guru yang mengajar masih setia mendampingi
para bocah ini.
Sebagaimana
telah digariskan sebelumnya, para santri kembali berkumpul usai melakukan pembelajaran.
Sebagai penanggung jawab, saya kembali memberi motivasi sambil menerima uneg
uneg mereka.
Pada
kesempatan itu, saya kembali menegaskan agar mereka mengikuti pelatihan
mubaligh mulai Minggu (18/3/2018). “Mudah-mudahan, sudah ada yang bisa tampil berceramah
dihadapan jamaah tarwih dan subuh pada ramadhan tahun ini,” ujar saya pada para
santri dengan nada optimis.
Tak bisa
dipungkiri, metode tahfidz yang diawali dengan membaca terjemahan menjadi dasar
dalam menyampaikan ceramah. Para santri memang diharuskan menggunakan Al Quran
sama, yakni 1 juzz sebanyak 20 lembar. Dengan cara tersebut, mereka mudah mengingat
dan memahami posisi ayat yang dihafal.
Sebagai kata
motivasi kembali disampaikan agar menjadi generasi cerdas dan berkhaklak mulia.
Hari ini lah penentu masa depan. Karena, kita tidak pernah tahun tentang masa
depan. “Saya sangat berkeyakinan, dari kelompok inilah munculnya walikota atau
bupati. Malahan, bukan mustahil dari kelompok inilah, munculnya lahirnya
presiden pertama yang berasal dari Kota Padang,” ujar saya yang disambut dengan
Aamiin oleh para calon penghafal Al Quran tersebut.
Tingginya
motivasi anak anak tersebut dalam belajar, makin memperkuat keinginan saya
untuk meningkatkan pembangunan fisik masjid. Apalagi, saat ini para anak anak
tersebut belajar hanya membentuk kelompok dalam ruang masjid. Hal ini, jelas
tidak efektif dalam proses pembelajaran, karena akan mengganggu kelompok yang
lain.
Satu langkah
yang harus dilakukan dengan membangun beberapa ruangan dikanan dan teras
masjid. Ada 2 titik yang bisa dimanfaatkan untuk ruang belajar Tahfidz dan TPQ.
Dalam perhitungan kasar dibutuhkan biaya sebesar Rp15 juta.
Walau kondisi
kas Masjid Al Quwait saat ini minus Rp16 juta lebih, namun pembangunan ini
adalah hal mendesak. Karena, embrio generasi Islam yang cerdas dan berakhlak sudah
mulai muncul. Tinggal lagi menunggu kelahiran dengan menyediakan tempat layak. Kewajiban semua muslim untuk mempercepat
proses kelahiran ini dengan memberikan infak dan sumbangan. Baik bahan bangunan
maupun uang tunai.
Bagi yang ingin memberikan infak dan sumbangan
dalam bentuk uang tunai, bisa melalui rekening Bank BRI, nomor : 5477.01.013471.53-5
atas nama: Masjid Al Quwait
loading...
loading...
